BUDAYAKAN BEREMPATI
Empati juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menyadari diri sendiri atas perasaan seseorang, lalu kemudian bertindak untuk membantunya. Dizaman yang serba instan saat ini secara kasat mata mampu mengerus tatanan sosial yang sudah tersusun sejak zaman kerajaan majapahit sampai dengan orde baru. Yaitu semangat kebersamaan dan saling berempati mulai memudar dan diganti dengan system individualistis. Saat ini, sulit rasanya menemukan senyum ramah masyarakat yang penuh ketulusan dan keramahan. Yang sering kita lihat justru wajah-wajah “sangar” tanpa belas kasihan. Wajah-wajah penuh dengan kecurigaan, iri dan dengki. Rasa persaudaraan yang dulu begitu kokoh, kini seperti hilang tak berbekas.
Untuk menumbuhkan sifat berempati sesama dizaman sekarang, kita perlu mencoba kembali menata ruang dalam hati untuk mampu menghadirkan, merasakan serta membayangkan penderitaan yang menimpa orang tua, saudara, teman, tetangga disekitar kita, tanpa rasa itu hadir didalam hati maka anggota tubuh mata, tangan, dan kaki akan berat untuk bergerak untuk membantunya, jika rasa itu tetap tetutup untuk berempati maka berbuah pahit disebut "egois" yang saat ini menjadi penyakit yang menular bagi masyarakat indonesia.
Ketika membangun rumah menginginkan tembok rumah yang tebal dan kuat, pagar yang tinggi seolah pengemis atau tetangga akan enggan malu meminta beras (bantuan) kepadanya.....
Sehingga perlu waktu lama membongkar keras nya tembok dan pagar yang menghalangi hati sang pemilik untuk berempati kepada kaum lemah.....
Robohkan dinding dan pagar yang menghalangi hati ini sehingga mampu merasakan penderitaan kaum lemah sehingga hati ini mampu tunduk dihadapan allah swt......
Dulu, ketika ada warga masyarakat yang mengalami musibah dan kesusahan maka warga lainnya juga ikut merasakan kesusahannya sehingga antar warga pun bahu membahu, saling tolong menolong meringankan kesusahan tersebut. Tak ada pamrih apapun. Tapi, lihatlah kondisi sekarang. Antar tetangga tak saling kenal, saling acuh tak acuh. Budaya individualisme sangat mendominasi. Maka yang terjadi yang kuat makin kuat, sedangkan yang lemah makin lemah. Jurang pemisah pun makin lebar karena yang kaya makin kaya, sementara yang miskin pun makin jatuh miskin.
Budaya untuk saling ber empati “dibunuh” secara perlahan oleh persaingan individu yang menghasilkan pameran kekayaan. Budaya hedonisme dan konsumersime “menghantam” semangat untuk saling perduli dan saling merasakan iba tanpa belas kasihan sudah terkikis. Kampanye untuk memiliki berbagai produk dan barang “wah” jauh lebih marak dan diminati dibandingkan kampanye gerakan solidaritas nasional.
Empati merupakan keadaan mental yang membuat orang merasa dirinya dalam keadaan, perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain.
Empati merupakan sifat terpuji, Allah Swt. menganjurkan hambanya memiliki sifat ini. Empati sama dengan rasa iba atau rasa belas kasihan kepada orang lain yang terkena musibah dan bersegera untuk bergegas membantunya. Islam sangat menganjurkan sikap empati, sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.S. an-Nisa/4: 8 yang artinya :
“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik”. (Q.S. an-Nisa/4: 8).
Ayat tersebut menjelaskan apabila ada sanak keluarga, anak yatim, atau orang miskin yang ikut menyaksikan pembagian warisan, maka mereka diberi bagian sekadarnya sebagai pengikat tali kasih dan rasa kepedulian terhadap mereka yang perlu ditumbuhkan.
Perilaku empati terhadap sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan dengan cara:
1. peka terhadap perasaan orang lain,
2. membayangkan seandainya aku adalah dia,
3. berlatih mengorbankan milik sendiri, dan
4. membahagiakan orang lain.
Belajar untuk mendengar dan merasakan.
kehidupan didunia ini kita tidak hidup sendiri tetapi berkehidupan sosial, hidup bermasyarakat oleh karena nya allah swt memberikan menciptakan manusia lengkap dengan panca indra seperti mata, telinga, mulut, tangan, kaki, dll. penciptaan tersebut bertujuan eksistensi untuk melaksanakan tugas sebagai mahluk sosial di dunia. allah memberikan fasilitas kepada manusia saling bepasang pasangan mulai dari laki laki dan perempuan, miskin dan kaya, sehat dan sakit, musibah dan anugrah, kesemua itu adalah rahmat bagi manusia yang mau belajar untuk lebih baik. Berawal dari mendengarkan, maka ingin merasakannya lebih dalam, anda secara tidak langsung akan membayangkan bagaimana merasakan penderitaan dan kesusahan dan apa yang sebenarnya dirasakan oleh orang lain yang sedang mengalami musibah
Belajar untuk mengenal, memahami hati dengan melihat keadaan sekitar
Ketika membangun rumah kita ingin tembok rumah yang tebal dan kuat, pagar yang tinggi seolah pengemis atau tetangga akan malu meminta beras (bantuan) kepadanya. sehingga perlu waktu lama membongkar keras nya tembok dan pagar yang menghalangi hati untuk berempati kepada kaum lemah. robohkan dinding dan pagar yang menghalangi hati ini sehingga mampu merasakan penderitaan kaum lemah sehingga hati ini mampu tunduk dihadapan allah swt
Terkadang kita yang tinggal hidup dilingkungan perkotaan, perumahan atau apartemen kita tidak tahu nama satu persatu tetangga kita, apabila belum saling mengenal, apakah kita bisa merasakan ber empati? sangat ironis, berangkat pagi pagi dengan mobil dengan kaca ribben (gelap), pulang malam langsung masuk garasi pagar ditutup, seperti itu rutinitas setiap hari sampai kita meninggal? bagaimana kita mampu memahami lingkungan sekitar.
Belajar berempati anda hati akan dapat melihat orang lain ke bawah, bahwa terkadang anda berada pada keadaan yang lebih baik dari orang lain.
kehidupan didunia ini kita tidak hidup sendiri tetapi berkehidupan sosial, hidup bermasyarakat oleh karena nya allah swt memberikan menciptakan manusia lengkap dengan panca indra seperti mata, telinga, mulut, tangan, kaki, dll. penciptaan tersebut bertujuan eksistensi untuk melaksanakan tugas sebagai mahluk sosial di dunia. allah memberikan fasilitas kepada manusia saling bepasang pasangan mulai dari laki laki dan perempuan, miskin dan kaya, sehat dan sakit, musibah dan anugrah, kesemua itu adalah rahmat bagi manusia yang mau belajar untuk lebih baik. Berawal dari mendengarkan, maka ingin merasakannya lebih dalam, anda secara tidak langsung akan membayangkan bagaimana merasakan penderitaan dan kesusahan dan apa yang sebenarnya dirasakan oleh orang lain yang sedang mengalami musibah
Belajar untuk mengenal, memahami hati dengan melihat keadaan sekitar
Ketika membangun rumah kita ingin tembok rumah yang tebal dan kuat, pagar yang tinggi seolah pengemis atau tetangga akan malu meminta beras (bantuan) kepadanya. sehingga perlu waktu lama membongkar keras nya tembok dan pagar yang menghalangi hati untuk berempati kepada kaum lemah. robohkan dinding dan pagar yang menghalangi hati ini sehingga mampu merasakan penderitaan kaum lemah sehingga hati ini mampu tunduk dihadapan allah swt
Terkadang kita yang tinggal hidup dilingkungan perkotaan, perumahan atau apartemen kita tidak tahu nama satu persatu tetangga kita, apabila belum saling mengenal, apakah kita bisa merasakan ber empati? sangat ironis, berangkat pagi pagi dengan mobil dengan kaca ribben (gelap), pulang malam langsung masuk garasi pagar ditutup, seperti itu rutinitas setiap hari sampai kita meninggal? bagaimana kita mampu memahami lingkungan sekitar.
Belajar berempati anda hati akan dapat melihat orang lain ke bawah, bahwa terkadang anda berada pada keadaan yang lebih baik dari orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar